Selasa, 19 Januari 2016

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) UNWAHAS DI MTs USWATUNHASANAH SEMARANG

NAMA        : ROKHANAH
TTL             : KENDAL, 9 JULI 1992
ALAMAT   : NOLOKERTO 02/05 KALIWUNGU KENDAL
NIM            : 116014078

UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

JUDUL : EFEKTIFITAS PENERAPAN MODEL TALKING STICK DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM SISWA KELAS VII DI MTS USWATUN HASANAH SMG

Pada mulanya, Talking Stick (tongkat berbicara) adalah metode yang digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk mengajak semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum (pertemuan antar suku). Kini metode itu sudah digunakan sebagai metode pembelajaran ruang kelas. Sebagaimana namanya, Talking Stick merupakan metode pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat. Kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah mereka mempelajari materi pokoknya. Kegiatan ini diulang terus menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru.           
  Dalam penerapan metode Talking Stick ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, kecerdaasan, persahabatan, atau minat yang berbeda. Metode ini cocok digunakan untuk semua kelas dan semua tingkatan umur.
Langkah-Langkah Metode Talking Stick
1)      Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya +20 cm.
2)      Guru menyiapkan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pembelajaran.
3)      Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
4)      Setelah siswa selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilakan siswa untuk menutup isi bacaan.
5)      Guru mengambil tongkat dan memberikannya kepada salah satu siswa, setelah itu guru member pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
6)      Guru memberi kesimpulan
7)      Guru melakukan evaluasi/penilaian
8)      Guru menutup pembelajaran
 

NAMA      : MUSTAOFIYAH
TTL           : KENDAL, 15 OKTOBER 1992
ALAMAT : NOLOKERTO 02/01 KALIWUNGU KENDAL

UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

JUDUL : PENERAPAN METODE MAKE A-MATCH DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR AQIDAH AKHLAQ PADA SISIWA KELAS VIII MTs USWATUN HASANAH SMG



Make A-Match
Model pembelajaran Make A-Match artinya model pembelajaran mencari pasangan. Setiap siswa mendapat sebuah kartu bisa soal atau jawaban, lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. Suasana pembelajaran Make A-Match akan riuh, tetapi sangat asik dan menyenangkan.
Langkah-langkah metode Make A-Match sebagai berikut
a.       Membuat pertanyaan yang sesuai dengan materi yang dipelajari ( jumlahnya tergantung tujuan pembelajaran ) kemudian menulisnya dalam kartu-kartu pertanyaan.
b.      Membuat kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat dan menulisnya dalam kartu-kartu jawaban. Akan lebih baik jika kartu pertanyaan dan kartu jawaban berbeda warna.
c.       Membuat aturan yang berisi penghargaan bagi siswa yang gagal (disini, guru dapat membuat aturan ini bersama-sama dengan siswa).                                                                                               
d.      Menyediakan lembaran untuk mencatat pasangan-pasangan yang berhasil sekaligus untuk penskoran presentasi.
e.       Guru menyampaikan materi atau memberi tugas kepada siswa untuk mempelajari materi dirumah.
f.       Siswa dibagi ke dalam dua kelompok, Misalnya kelompok A dan kelompok B. Kedua kelompok diminta untuk berhadap-hadapan.
g.      Guru membagikan kartu pertanyaan kepada kelompok A dan kartu jawaban kepada kelompok B.
h.      Guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari atau mencocokkan kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru juga perlu menyampaikan batasan maximum waktu yang ia berikan kepada mereka.
i.        Guru meminta semua anggota kelompok A untuk mencari pasangannya di kelompok B. Jika mereka sudah menemukan pasangannya masing-masing, Guru meminta mereka melaporkan diri kepadanya. Guru mencatat mereka pada kertas yang sudah dipersiapkan.
j.        Jika waktu sudah habis, mereka harus diberitahu bahwa waktu sudah habis. Siswa yang belum menemukan pasangan diminta untuk berkumpul tersendiri.
k.      Guru memanggil satu pasangan untuk presentasi. Pasangan lain dan siswa yang tidak mendapat pasangan memperhatikan dan memberikan tanggapan apakah pasangan itu cocok atau tidak.
l.        Terakhir guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran dan kecocokan pertanyaan dan jawaban dari pasangan yang memberikan presentasi.
m.    Guru memanggil pasangan berikutnya, begitu seterusnya sampai seluruh pasangan melakukan presentasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar